Sejarawan Sesalkan Berbagai Monumen Perjuangan di Medan Terlantar
Pakar sejarah menyesalkan hancurnya berbagai monumen perjuangan kemerdekaan di Sumatera Utara seperti Rumah Wawasan Kemerdekaan di Medan.
Sejarawan dari Universitas Negeri Medan Dr. Phil. Iwan Azhari dalam dialog Revitalisasi Jiwa Semangat 45 Dalam Mewujudkan Revolusi Mental dan Daya Saing Bangsa' di Aula Martabe Kantor Gubernur, Kamis (4/12/2014), mengatakan monumen itu perlu perhatian serius karena bernilai tinggi.
"Ketika Proklamasi Kemerdekaan RI dibacakan Muhammad Taher Di Medan, Monumen inilah yang menjadi memori perjuangan di Medan. Akan tetapi saat ini yang kita lihat, apa? Malah monumen yang memiliki sejarah besar dalam perjuangan kemerdekaan itu sudah direnovasi tapi bukan kearah perbaikan melainkan pembangunan yang hanya menguntungkan bagi para pengusaha," katanya.
Ichwan memberi contoh lain, yaitu prasasti di Jalan Bali yang menceritakan tentang salah satu perang terbesar yang pernah terjadi di Indonesia, Perang Medan Area, nasibnya juga terlantar.
"Bahkan jika kita lihat di depannya, Monasnya Kota Medan, Tugu Apollo yang berada di Sambu, nasibnya juga tak jauh berbeda dengan dua monumen sejarah tadi. Kondisi tugu Apollo ini kotor dan selalu dijadikan tempat mangkal bagi para tukang becak dan para pedagang sayur," jelasnya.
Azhari berharap kepada Gubernur Sumatera Utara Gatot Pudjo Nugroho yang juga hadir dalam dialog tersebut untuk dapat menjadikan monumen-monumen bersejarah yang ada di Sumut, khususnya Medan sebagai museum perjuangan.
"Saya berharap kepada Gubernur, agar situs-situs peninggalan sejarah itu bisa dijadikan museum. Agar situs-situs sejarah perjuangan ini bisa bermanfaat bagi dunia pendidikan. Karena jika sejarah saja kita tidak tahu, bagaimana kita mau menjadi bangsa yang bisa berdaya saing?" ucapnya.
Sejarawan dari Universitas Negeri Medan Dr. Phil. Iwan Azhari dalam dialog Revitalisasi Jiwa Semangat 45 Dalam Mewujudkan Revolusi Mental dan Daya Saing Bangsa' di Aula Martabe Kantor Gubernur, Kamis (4/12/2014), mengatakan monumen itu perlu perhatian serius karena bernilai tinggi.
"Ketika Proklamasi Kemerdekaan RI dibacakan Muhammad Taher Di Medan, Monumen inilah yang menjadi memori perjuangan di Medan. Akan tetapi saat ini yang kita lihat, apa? Malah monumen yang memiliki sejarah besar dalam perjuangan kemerdekaan itu sudah direnovasi tapi bukan kearah perbaikan melainkan pembangunan yang hanya menguntungkan bagi para pengusaha," katanya.
Ichwan memberi contoh lain, yaitu prasasti di Jalan Bali yang menceritakan tentang salah satu perang terbesar yang pernah terjadi di Indonesia, Perang Medan Area, nasibnya juga terlantar.
"Bahkan jika kita lihat di depannya, Monasnya Kota Medan, Tugu Apollo yang berada di Sambu, nasibnya juga tak jauh berbeda dengan dua monumen sejarah tadi. Kondisi tugu Apollo ini kotor dan selalu dijadikan tempat mangkal bagi para tukang becak dan para pedagang sayur," jelasnya.
Azhari berharap kepada Gubernur Sumatera Utara Gatot Pudjo Nugroho yang juga hadir dalam dialog tersebut untuk dapat menjadikan monumen-monumen bersejarah yang ada di Sumut, khususnya Medan sebagai museum perjuangan.
"Saya berharap kepada Gubernur, agar situs-situs peninggalan sejarah itu bisa dijadikan museum. Agar situs-situs sejarah perjuangan ini bisa bermanfaat bagi dunia pendidikan. Karena jika sejarah saja kita tidak tahu, bagaimana kita mau menjadi bangsa yang bisa berdaya saing?" ucapnya.

0 comments:
Post a Comment