Pulang! (4)

Kutekadkan dalam hatiku untuk tak lagi menginjak tanah itu. Kuhapus kenanganku tentang Monas, tentang terminal Senen, Blok M, Kampung Melayu yang selama bertahun-tahun seakan menjadi denyut nadiku. Kulupakan juga sudut-sudut gelap lagi dingin di TIM dan Ancol, tempat dimana aku sempat ikut-ikutan nongkrong, sok membangun mental dan menunjukkan idealisme, bersama sejumlah seniman jalanan yang ingin jadi tenar seperti Tardji atau Jabo.


Delapan tahun yang lalu aku nekat mengadu untung di kota itu, berangkat bersama seorang kawan yang sudah lebih lama tinggal di sana, dan menurut pengakuannya cukup berhasil. Aku percaya pada kata-katanya. Kawan-kawan lain juga percaya. Seluruh orang kampung percaya. Penampilan kawan itu memang jadi lain sekali. Pakaiannya bagus-bagus. Kalau mengenakan kemeja, kemejanya itu selalu berwarna meriah, dengan corak yang juga meriah. Tapi kaus-kausnyalah yang membikin kami, pemuda-pemuda kampung, selalu berdecak kagum. Kaus itu terbuat dari bahan yang halus dan tebal, dan di bagian depan maupun punggungnya tercetak gambar-gambar unik yang ditingkahi dengan kalimat-kalimat lucu.(5)


Padahal kami semua tahu siapa kawan itu sebelumnya. Tak punya pekerjaan tetap cukup lama, dia menerima pekerjaan apapun yang diberikan padanya. Mulai dari membawa becak, jadi buruh di perkebunan, sampai akhirnya menggembalakan hewan ternak. Pekerjaan yang terakhir inilah yang paling lama ia geluti. Kalau aku tidak salah ingat, hampir sepuluh tahun ia menjadi penggembala, terutama kambing.


Kampung kami memang dikenal sebagai daerah penghasil kambing. Setiap tahun, setiap musim haji tiba, para saudagar kambing di kampung kami panen. Kambing-kambing kampung kami selalu dicari karena sehat dan gemuk-gemuk. Kawan itu sendiri merupakan gembala upahan yang paling disukai. Selain rajin, orang-orang tua bilang dia memiliki tuah badan. Di kepalanya ada dua uyeng-uyeng . Banyak yang meyakini bahwa dua uyeng-uyeng merupakan pertanda seorang anak akan tumbuh menjadi seorang yang agresif dan keras kepala. Kurang bisa diterima logika memang. Agresif dan keras kepala adalah sikap, dimana letak hubungannya dengan uyeng-uyeng kepala?(6)


Tapi itulah keyakinan orang-orang dulu, yang meski aneh-aneh sebagian besar memang telah terbukti benar. Keyakinan akan adanya dua uyeng-uyeng ini sendiri sebenarnya tidak melulu dimaknai agresif dan keras kepala. Masih ada beberapa makna lain dan menurut orang-orang tua di kampung kami, dua uyeng-uyeng di kepala kawan itu justru bermakna keberuntungan. Disebutkan mereka bahwa kawan itu bertuah tangannya, istilah sekarang: dingin tangannya, sehingga apabila ia berusaha ataupun diberikan usaha di bidang yang berhubungan dengan hewan ternak, hasilnya akan bagus.


Dia sebenarnya sudah cukup senang. Uyeng-uyeng yang dimilikinya ternyata memang benar-benar bertuah. Kambing-kambing gembalaannya berkembang dan berbiak lebih bagus dibandingkan kambing gembala-gembala lain. Hal ini membuat banyak saudagar kambing menaruh kepercayaan kepadanya. Tapi begitulah, rupa-rupanya kawan itu tidak puas. Dia ingin kehidupan yang lebih baik dan –terutama– lebih bergaya. Maka suatu hari dia menghilang. Musim haji baru saja berakhir dan seluruh kambing-kambing gembalaannya sudah laku terjual. Dengan kata lain, dia pergi tidak dengan meninggalkan tanggung jawab. Bagus juga. Tapi begitu pun para saudagar tetap saja merasa sangat kehilangan. Panen besar yang mereka dapatkan membuat saudagar-saudagar itu ingin bekerjasama lagi dengannya. Tapi kawan itu sudah keburu pergi. Kata pakliknya, dia pergi untuk mencari peruntungan di Jakarta.


Sesungguhnya, di kampung kami, bukan cuma kawan itu yang memiliki mimpi untuk hidup lebih baik dan lebih bergaya. Kami semua memilikinya. Ada kawan yang hobinya main gitar bermimpi bisa menjadi gitaris betulan dan sepanggung dengan Ian Antono, gitaris GodBless. Begitu juga yang merasa bisa menyanyi. Semuanya bermimpi ingin jadi penyanyi, lantas rekaman, albumnya laris, menjadi selebritis dan tentu saja kaya raya. Tidak sedikit yang ingin memiliki karier. Menjadi pegawai, entah itu di pemerintahan ataupun swasta. Sama saja. Yang penting bisa menjadi orang kantoran, bergaya, berkemeja dan berdasi setiap hari. Dan kami, pemuda-pemuda kampung, beranggapan bahwa memang hanya dengan pergi ke kota (terutama Jakarta) mimpi-mimpi tersebut bisa terwujud.


Namun yang menjadi masalah, tidak satupun di antara kami yang berani pergi ke Jakarta. Sampai kemudian kawan itu kembali dengan penampilan yang benar-benar telah bergaya. Selain pakaian, dia juga bersepatu dan tali arlojinya tampak kuning berkilatan, mungkin dari emas. Kami pun terkagum-kagum, dan jadi semakin kagum setiap kali ia menceritakan keberhasilan-keberhasilannya saat kami ditraktirnya minum di kedai kopi.


Kawan itu hanya berada di kampung selama satu minggu. Dia harus kembali ke Jakarta sebab katanya bisnis yang ia kelola di sana tidak bisa ditinggalkan berlama-lama. Kami hanya bisa terpelongo ketika dijelaskannya, bahwa di Jakarta, setiap detik sama berharganya dengan lembaran uang. Lengah sedikit, peluang dan rezeki bisa terampas, bahkan oleh kawan sendiri. Jakarta kota keras, kawan-kawan, siapa yang tak kuat bakal tertindas, kata-katanya itu masih kuingat sampai sekarang.


Aku begitu terpesona pada kata-kata itu sehingga sehari sebelum kepulangannya, aku mendatanginya dan memohon padanya agar dia bersedia membawaku serta ke Jakarta.


Keterangan:
(5) Tipikal kaus Dagadu-Jogja. Kaus ini sempat menjadi trend pada pertengahan sampai akhir tahun 1990-an.
(6) Tanda lahir, yakni pusaran rambut di kepala, yang di sejumlah daerah dimaknai sebagai isyarat atau tanda-tanda tertentu. Disebut juga sebagai pusar-pusar.




View the original article here




Peliculas Online

0 comments:

Post a Comment