Showing posts with label berita penerbangan. Show all posts
Showing posts with label berita penerbangan. Show all posts

Garuda Balikpapan - Makassar Delay, Penumpang Diinapkan di Hotel


Jakarta - Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 632 tujuan Balikpapan-Makassar mengalami keterlambatan. Saat ini, penumpang diinapkan di Hokaya Plaza Hotel.

Salah seorang penumpang Diah Retno menceritakan, seharusnya pesawat yang akan ia tumpangi akan take off pada pukul 16.45 Wita, Jumat (30/1/2015). Namun, hingga pukul 02.00 Wita, Sabtu (31/1/2015), belum ada kepastian kapan pesawat take off. 

Akibat delay ini, sejumlah penumpang tampak protes kepada pengelola maskapai di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman.‎ Namun, protes ini tidak berlangsung lama.

Pihak maskapai membagi makanan kepada penumpang sebagai bentuk kompensasi. Selain itu, sekitar pukul 02.00 Wita, penumpang juga diinapkan di Hokaya Plaza Hotel.

Belum diketahui, kapan para penumpang ini akan diterbangkan. Belum diketahui juga penyebab pesawat tersebut delay. Pihak Garuda belum bisa dihubungi.

Ini yang Sebabkan AirAsia Surabaya-Singapura Bisa Tetap Terbang Walau Tak Ada Izin

Jakarta - AirAsia Surabaya-Singapura mengubah jadwal tanpa izin otoritas resmi Ditjen Perhubungan Udara. Tapi walau tanpa izin alias ilegal mereka bisa tetap terbang. Mengapa bisa?

Perbedaan data disebut Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Djoko Muriatmodjo menjadi penyebab AirAsia bisa mengubah jadwal. Apa penjelasannya?

"Kemudian terkait dengan kenapa penerbangan yang tak sesuai izin bisa terbang, dari investigasi awal ternyata ada pengunaan data yang berbeda antara Dirjen Hubungan Udara dengan pihak Bandara Juanda yang berikan clearance," jelas Djoko, Senin (5/1/2015).

"Dirjen Hubdar gunakan data izin resmi, yang di lapangan pakai data alokasi slot, yang sebenarnya itu juga termasuk salah satu izin untuk dapatkan izin terbang. Menurut di lapangan bisa terbang tapi menurut aturan resmi tidak boleh," tambahnya.

Karena itu, lanjut Djoko, Menhub memberikan instruksi kepada Airnav untuk mengambil langkah awal, yaitu memindahkan petugas operasional terkait AirAsia yang mengubah jadwal.

"Kalau dari pihak Kemhub ada yang salah, juga akan ditindak, seperti teman-teman di Airnav, AP I. Kami tidak boleh diskriminatif," tutup dia.

Dugaan Mesin Pesawat Air Asia QZ850, Ini Tanggapan CEO Air Asia


CEO AirAsia Tony Fernandes meminta seluruh kru dan juga karyawan tidak terpengaruh dengan berita-berita sensasional yang ditulis oleh surat kabar terkait jatuhnya pesawat QZ8501 di Selat Karimata, dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Lewat akun Twitternya @Tonyfernandes, pengusaha asal Malaysia itu mengatakan, AirAsia tidak akan memberikan komentar apa pun terkait tudingan yang dilontarkan media massa terkait insiden yang dialami QZ8501.

“Ada banyak berita utama yang dimunculkan terkait AirAsia QZ8501. Kami tetap diam karena fokus kami saat ini adalah keluarga penumpang. Satu per satu fakta akan keluar dan menjelaskan semuanya. Ada yang menyebut mesin QZ8501 macet.  Saya minta semuanya tetap tenang. Hanya waktu yang akan menentukan,” kata Fernandes.

Dia juga meminta seluruh kru dan karyawan untuk tetap fokus dan kuat. Tony meminta karyawan memperlihatkan kepada dunia kenapa AirAsia ditetapkan sebagai maskapai penerbangan murah terbaik di dunia selama 6 tahun beruntun.

Pesawat AirAsia QZ8501 jatuh di Selat Karimana setelah hilang kontak pada hari Minggu (28/12/2014). Pesawat yang membawa 162 penumpang dan kru itu lepas landas dari Bandara Juanda, Surabaya menuju Singapura. Pesawat itu hilang kontak 40 menit setelah lepas landas.

Analisis Ahli: QZ8501 Naik Hindari Badai, Tapi Terbang Terlalu Pelan


Jakarta - Sejumlah analisis muncul soal nasib pesawat AirAsia QZ8501. Pengamat penerbangan internasional terkemuka Geoffrey Thomas menduga QZ8501 terjatuh karena terbang terlalu pelan saat menghindari badai.

Dikutip dari dailymail.co.uk, Senin (29/12/2014), Thomas mengaku telah mendiskusikan data-data terkait QZ8501 dengan sejumlah pilot berpengalaman. Dari hasil diskusinya, dia menduga AirAsia QZ8501 itu bergerak terlalu pelan saat naik menghindari badai petir.

"QZ8501 terbang terlalu pelan, sekitar 100 knot. Artinya, pesawat itu terbang 160 km lebih lambat dari yang seharusnya," ulas Thomas.

Thomas menduga pilot QZ8501 mencoba menghindari badai petir dengan naik lebih tinggi. Namun pesawat itu naik dengan kecepatan yang kurang. "Kondisinya mirip kecelakaan Air France AF447 di tahun 2009," ujar penerima banyak penghargaan di dunia industri penerbangan ini.

"Saya melihat plot di radar yang menunjukkan pesawat ada di ketinggian 36 ribu kaki, dan terus naik dengan kecepatan 353 knot, yang berarti 100 knot lebih lambat dari yang seharusnya. Jika radar itu benar, maka pesawat bergerak terlalu lambat untuk ketinggian tersebut," sambung Thomas.

"Pada dasarnya pesawat itu terbang terlalu pelan pada ketinggian tersebut, udara terlalu tipis, sayap tidak mendukung dengan kecepatan itu, dan Anda jatuh," pungkasnya.